Sabtu, 30 Maret 2013

Desain Konsep Pengembangan Hotel Ceria


Proyek desain hotel kelas melati yang bernama “ Hotel Ceria” ini berlokasi di Kendal, Jawa Tengah, dengan lokasi di jalur area wisata Gonoharjo, lereng Gunung Ungaran. Tingkat kunjungan yang cukup tinggi terutama para pelajar yang ingin berwisata di Gunung Ungaran membuat pemilik merasa perlu untuk melakukan pengembangan dari bangunan yang sudah dibangun sebelumnya. Site baru yang ada sekitar 2.500 m2, dengan kondisi lahan menyempit ke bagian belakang dan berkontur menurun ke bagian belakang. Site tersebut direncanakan untuk dua bangunan yaitu hotel 3 lantai dan rumah 2 lantai untuk pemilik hotel tersebut. 
 


Sesuai dengan nama “ceria”, fasad bangunan hotel dibuat dengan bentukan yang berkesan dinamis ditambah dengan penggunaan warna-warna yang cerah seperti hijau muda dan oranye. Pot-pot tanaman yang dibuat menempel pada dinding fasad bangunan dan pergola dengan tanaman rambat diharapkan bisa menciptakan suasana yang lebih asri sehingga membuat pengunjung merasa lebih nyaman.




Sabtu, 16 Februari 2013

Proyek Tugas Akhir Sarjana Arsitektur UTY


 DESAIN GEDUNG PERPUSTAKAAN DAN ARSIP KABUPATEN MAGELANG
PENEKANAN ASPEK AKSESIBILITAS PADA BANGUNAN

Desain gedung perpustakaan dan arsip Kabupaten Magelang dengan penekanan aspek aksesibilitas pada bangunan merupakan salah satu wujud sebuah gagasan untuk merancang bangunan perpustaakaan umum kabupaten yang sesuai dengan standar yang berlaku serta memberikan kemudahan akses bagi seluruh lapisan masyarakat termasuk golongan difabel. Latar belakang proyek tersebut adalah kondisi eksisting bangunan gedung perpustakaan dan arsip di Kabupaten Magelang yang telah mengalami berbagai kerusakan dan kapasitasnya sudah tidak mampu menampung kebutuhan ruang yang diatur dalam standar SNI 7495:2009 tentang perpustakaan umum kabupaten/kota. Kaum difabel di Kabupaten Magelang yang jumlahnya mencapai 6.000 orang juga memerlukan fasilitas publik yang mudah diakses, termasuk akses ke perpustakaan umum kabupaten tersebut sesuai ketentuan yang diatur dalam Permen PU No.30/PRT/M/2006 tentang pedoman teknis fasilitas dan aksesibilitas pada bangunan gedung dan lingkungan.   


Strategi desain yang tepat sangat diperlukan mengingat bahwa luas lahan yang tersedia untuk membangun gedung tersebut hanya sekitar 46% dari keseluruhan luas ruang yang dibutuhkan. Penyelesaiannya adalah dengan membuat bangunan bertingkat dengan ramp sebagai akses vertikal. Ramp dipilih dengan pertimbangan untuk kemudahan akses bagi difabel namum tidak memerlukan biaya operasional yang cukup tinggi seperti pada penggunaan lift, mengingat bangunan tersebut adalah bangunan pemerintah yang dibiayai dengan APBD. Konsep split level (elevasi lantai selang-seling) digunakan untuk memperpendek jarak akses antar elevasi lantai sehingga tidak melelahkan untuk akses ke tiap-tiap lantai. Massa bangunan diangkat agar didapatkan ruang terbuka yang cukup untuk area parkir dan taman, sekaligus untuk memenuhi syarat koefisien dasar bangunan (KDB).   


Penataan interior bangunan juga dirancang dengan pertimbangan kemudahan akses bagi difabel antara lain pada counter aksesibel, meja katalog digital, rak koleksi, ruang baca maupun pada ruang-ruang privat pengelola.

 

Sabtu, 22 Desember 2012

Desain Rumah Modern Minimalis di Lahan Trapesium


Lahan seluas 132 m2 berbentuk trapesium ini berada di sudut jalan lingkungan, sehingga rancangan bangunan dapat dibuat dengan dua muka menghadap jalan. Bangunan dibuat dengan luas 78 m2 untuk menampung kebutuhan ruang yang dibutuhkan. Taman kecil di dalam bangunan (innercourt) dibuat  untuk memberikan pencahayaan alami dan memperbaiki sirkualasi udara dalam bangunan yang menempati sebagian besar lahan. Fasad rumah ini dibuat dengan gaya tropis modern sesuai dengan keinginan pemiliknya. Dinding depan diolah dengan pasangan batu palimanan sehingga fasad bangunan terlihat menarik. Pada bagian teras dibuat pilar yang dicat warna orange yang mencolok untuk menegaskan posisi entrance rumah.
 



Sabtu, 15 Desember 2012

Desain Rumah Tropis 1 Lantai Atap Limasan


Rumah ini berada di Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Lingkungan setempat merupakan pedesaan dengan cukup banyak lahan yang masih belum didirikan bangunan. Luas lahan yang ada 620 m2 sedangkan Luas bangunan yang dibutuhkan hanya 180 m2. Bapak dan Ibu Farid sebagai pemilik rumah menginginkan desain rumah dibuat 1 lantai karena lahan yang dimilikinya relatif luas untuk menampung kebutuhan ruang yang dibutuhkan. Pada umumnya masyarakat pedesaan masih menjunjung nilai “tepa salira” atau tenggang rasa, sehingga mereka tidak ingin membangun rumah yang terkesan menunjukkan kemewahan. Hal tersebut menjadi salah satu pertimbangan untuk merancang rumah yang tampilannya cukup sederhana dan terlihat wajar berada diantara rumah-rumah yang sudah ada. Bentuk atap limasan dipilih untuk membuat tampilan rumah tersebut terlihat selaras dengan bangunan rumah di sekitarnya. Finishing batu alam juga cukup banyak digunakan karena di daerah setempat cukup banyak penjual batu alam.

Rabu, 28 November 2012

Desain Rumah Mungil 2 Muka

Rumah di Sleman Jogjakarta ini dibangun di lahan seluas 128 m2. Lahan tersebut merupakan bagian dari pekarangan milik satu keluarga. Bangunan seluas 51 m2 dibuat dengan 2 muka dengan sisi depan menghadap jalan sedangkan sisi samping menghadap rumah milik anggota keluarga yang lain. Halaman samping rumah menyatu dengan halaman rumah sebelah sehingga memudahkan akses maupun interaksi pada keluarga tersebut.


Rumah ini memiliki 2 kamar tidur, yang salah satunya merupakan kamar utama yang dilengkapi kamar mandi dalam. Ruang tamu, ruang keluarga dan ruang makan dibuat tanpa sekat sehingga tidak berkesan sempit. Bukaan dibuat cukup banyak untuk membuat ruang-ruang  dalam rumah ini mendapatkan cahaya matahari dan mendapatkan sirkulasi udara yang baik.