Senin, 09 Mei 2011

Trend Desain Perumahan Jogja Era 2010-an

Bencana gempa yang terjadi pada tahun 2006 di Jogjakarta membuat perkembangan sektor property di Jogjakarta sempat terhenti selama beberapa waktu. Pada tahun pertama dan kedua pasca bencana tersebut cukup banyak pengembang yang gulung tikar karena berbagai sebab. Keterbatasan modal untuk perbaikan kawasan, sulitnya penjualan perumahan, juga melonjaknya harga material dan upah tenaga kerja menjadi beban berat yang harus dihadapi para pengembang. Walaupun demikian masih cukup banyak pengembang yang mampu bertahan dan sedikit demi sedikit mulai berekspansi kembali dengan membuka kawasan-kawasan baru. Pada tahun 2010 kondisinya sudah kembali membaik dan kelihatannya hampir tidak ada lagi ketakutan atau trauma konsumen untuk membeli perumahan di Jogjakarta. Perumahan yang mulai dipasarkan pada tahun 2010 antara lain adalah Perumahan Titi Jaya Residence Palagan dan Pesona Galuh Aji.





Perkembangan desain perumahan di kota-kota besar seperti Jakarta juga sangat berpengaruh terhadap desain yang digunakan pada kebanyakan perumahan di Jogjakarta. Trend desain yang dalam bahasa marketing disebut gaya minimalis sudah cukup banyak digunakan pada masa tersebut. Pada prinsipnya desain bangunan masih menggunakan desain bangunan tropis. Bentuk-bentuk kotak yang sederhana, pola garis-garis vertikal dan horisontal, dan minimya penggunaan profil atau ornamen menjadi dasar bagi para pengembang untuk menyebut perumahan yang mereka kembangkan berkonsep modern minimalis. Prinsip-prinsip desain tropis yang masih digunakan seperti penggunaan kanopi beton di atas jendela untuk mereduksi sinar matahari yang masuk melalui jendela sekaligus melindungi jendela dari tampias air hujan. Lubang angin berupa roster beton dipasang diatas jendela untuk mengoptimalkan sirkulasi udara. Warna dasar kebanyakan menggunakan warna abu-abu. Warna-warna cerah seperti oranye, hijau dan biru cenderung lebih berani digunakan pada fasad bangunan.


Semoga bermanfaat.

Trend Desain Perumahan Jogja Era 2005-an


Daya tarik  Jogjakarta sebagai tempat investasi property disebabkan karena kota ini merupakan Kota Pelajar dan Kota Pendidikan. Predikat ini menjadi daya tarik bagi orang luar untuk datang ke Jogjakarta terutama untuk menuntut ilmu. Jogjakarta juga merupakan Kota Budaya yang menarik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan peninggalan sejarah yang adiluhung. Keramah-tamahan masyarakat dan suasana yang kondusif juga merupakan nilai tambah bagi kota Jogjakarta.

 Pada tahun 2005, sektor property di Jogjakarta sudah berkembang dengan sangat pesat. Pengembang-pengembang baru bermunculan dan memulai bisnisnya dengan mengembangkan kawasan kecil yang hanya terdiri dari beberapa kavling sampai belasan kavling saja.  Perumahan yang dibangun kebanyakan berlantai satu dengan luasan bangunan antara 36 m2  sampai dengan 80 m2. Salah satu diantara sekian banyak pengembang yang mulai berekspansi  pada sekitar tahun 2005 adalah Graha Mandiri Persada yang mengembangkan perumahan seperti: Pesona Bugisan, Pesona Babatan Asri, Wirosaban Indah, dan beberapa perumahan lain.




Desain yang digunakan pada kebanyakan perumahan di masa tersebut secara umum adalah desain bangunan tropis yang menggunakan atap limasan dan pelana dengan kemiringan tajam mencapai 45°. Kanopi beton di atas jendela digunakan untuk mereduksi sinar matahari yang masuk melalui jendela sekaligus melindungi jendela dari tampias air hujan. Lubang angin berupa roster beton dipasang diatas jendela untuk mengoptimalkan sirkulasi udara. Ornamen berbentuk lengkung seringkali digunakan sebagai penghias fasad depan rumah terutama pada bagian teras walaupun secara prinsip tidak memiliki makna tertentu. Kesan natural dimunculkan dengan penggunaan pasangan batu candi dan batu palimanan pada fasad bangunan. Unsur kayu digunakan pada kusen, pintu dan jendela yang umumnya menggunakan finishing berbahan melamin yang masih memperlihatkan serat-serat alami kayu. Warna-warna yang digunakan juga cenderung berkesan natural seperti krem dan coklat.



Semoga bermanfaat.

Senin, 02 Mei 2011

Membangun Dunia Jasa Konstruksi Yang Beretika

Bagi para praktisi di bidang rancang bangun atau jasa konstruksi mungkin pernah mendengar ungkapan orang yang mengatakan bahwa “kontraktor itu pencuri, konsultan itu penipu”. Terlepas dari benar atau tidaknya ungkapan tersebut tentunya kita masing-masing akan memiliki pendapat yang berbeda. Apabila kita mau membuka mata dan hati, tentu kita akan merasa  prihatin dengan kondisi dunia jasa konstruksi di negeri kita ini. Praktik-praktik yang tak beretika sepertinya sudah menjadi hal biasa dan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan sebuah proyek mulai dari proses tender sampai berakhirnya masa pemeliharaan sebuah proyek.

Haruskah kita membiarkan diri kita terhanyut dalam arus yang tidak sehat tersebut? Mungkinkah kita dapat berperan dalam memperbaiki keadaan? Cara terbaik yang dapat dilakukan hanyalah dengan memulai dari diri kita sendiri untuk konsisten dalam menjunjung tinggi nilai-nilai etika dalam segala hal yang kita kerjakan walau bagaimanapun konsekuensinya. Pepatah jawa mengatakan “jamane wis edan, yen ra ngedan ra keduman” yang berarti bahwa “jaman sudah gila, kalau tidak ikut-ikutan gila tidak akan kebagian”. Haruskah kita mengikuti pepatah tersebut? Tentunya tidak! Kita sebagai makhluk yang ber-Tuhan tentu percaya bahwa Tuhan Maha Adil dan Maha Kaya. Tuhan berkepentingan terhadap orang-orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika moral dalam menjalankan profesi dan usahanya untuk membuktikan kebesaran-Nya.

Alangkah baiknya apabila para pendidik, atasan, atau senior kita dalam bisnis rancang bangun dan jasa konstruksi dapat membimbing kita untuk menjunjung tinggi etika dan tetap mampu bersaing secara profesional. Alangkah baiknya apabila kita tidak terburu-buru menganggap benar segala sesuatu yang sudah biasa dilakukan orang, tetapi membiasakan diri untuk melihat dan melakukan segala sesuatu yang benar. Pada saatnya kitapun akan mampu membimbing para junior kita untuk menjadi para praktisi yang profesional dan beretika. Dengan demikian kita bisa berharap untuk terwujudnya dunia jasa konstruksi di negeri kita yang akan terus mengalami perbaikan secara berkelanjutan.


Semoga bermanfaat.

Selamat berkarya.